Pilih Bahasa :   Bahasa |        English  
Minggu, 23 Nopember 2014

     Cari :
Pencarian Lebih Lanjut





















 
Cetak


Sejarah Singkat


Teras Tentang Aceh Sejarah Singkat
 

Aceh merupakan Propinsi paling Barat Republik Indonesia terletak di ujung Pulau Sumatera, diapit oleh Lautan Hindia dan Selat Malaka. Letaknya amat strategis sebagai pintu masuk ke Nusantara dan sebagian Negara di Asia.

Masyarakat Aceh merupakan penganut Agama Islam yang fanatik dan hampir seluruhnya beragama Islam. Sebagian kecil dari mereka ada yang berketurunan Tapanuli, Jawa, Cina dan India, menganut agama Kristen, Hindu dan Budha. Kendati demikian kehidupan beragama di Aceh cukup harmonis dengan toleransi yang cukup tinggi. Sarana peribadatan seperti Mesjid dan Menasah terdapat di seluruh pelosok Aceh, sedangkan Gereja, Toa Peh Kong dan Kuil Hindu hanya terdapat di kota-kota besar saja.

SEJARAH

Sejarah mengenai Kejayaan Aceh yang sangat terkenal dimulai dari Kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai tercatat dalam sejarah sebagai Kerajaan Islam terbesar di Nusantara pada masanya. Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan oleh Merah Silu, yang kemudian masuk Islam dan berganti nama dan bergelar Sultan Malik Al- Saleh, atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Malikussaleh sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1267 M - 1297 M, sekitar abad ke-13.

Merah Silu dari Samudra Darussalam kemudian berhasil mempersatukan daerah Samudra dan Pasai. Dan kemudian kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama ?Kerajaan Samudra Pasai? (berada di Aceh Utara). Dengan wilayah kekuasaan yang sangat strategis maka dapatlah dikatakan posisi Kerajaan Samudra Pasai sangat memegang peranan penting bagi jalur perdagangan internasional yang melewati Lautan Hindia dan Selat Malaka.

Dengan posisi yang strategis tersebut, Samudra Pasai berkembang menjadi kerajaan Islam yang kuat, dan di pihak lain Samudra Pasai berkembang sebagai bandar transit yang menghubungkan para pedagang Islam yang datang dari arah barat dan para pedagang Islam yang datang dari arah timur. Keadaan ini mengakibatkan Samudra Pasai mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa itu baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Pada masa ini pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah (seorang musafir dari Kerajaan Maroko), ada seorang utusan dari Sultan Delhi tahun 1345 diketahui Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir. Menurut cerita Ibnu Batutah, perdagangan di Samudra Pasai semakin ramai dan bertambah maju karena didukung oleh armada laut yang kuat, sehingga para pedagang merasa aman dan nyaman berdagang di Samudra Pasai. Komoditi perdagangan dari Samudra Pasai yang penting adalah rempah-rempah, antara lain lada, cengkeh, kapur barus dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah dikenal uang sebagai alat tukar yaitu uang emas yang dinamakan Deureuham (dirham). Kemajuan dalam bidang ekonomi membawa dampak pada kehidupan sosial masyarakat Samudra Pasai yang makmur. Dan di samping itu juga kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan semangat kebersamaan dan hidup saling menghormati sesuai dengan syariat Islam.

Hubungan antara Sultan dengan rakyat terjalin baik. Sultan biasa melakukan musyawarah dan bertukar pikiran dengan para ulama, dan Sultan juga sangat hormat pada para tamu yang datang, bahkan tidak jarang memberikan tanda mata kepada para tamu. Kerajaan Samudra Pasai mengembangkan sikap keterbukaan dan kebersamaan. Salah satu bukti dari hasil peninggalan budayanya, berupa batu nisan Sultan Malikussaleh dan jirat Putri Pasai. Batu nisan tersebut berasal dari Gujarat ( India). Hal ini berarti kerajaan Samudra Pasai bersifat terbuka dalam menerima budaya lain yaitu dengan memadukan budaya Islam dengan budaya India.

Masa Kejayaan Aceh dimulai lagi dari Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, yang lebih dikenal dengan nama Sultan Iskandar Muda. Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda yang dimulai awal abad ke-16 pada tahun 1607-1636 yang terkenal dengan nama Kesultanan Aceh Darussalam (sekarang Kota Banda Aceh), dan merupakan masa kejayaan yang paling gemilang bagi Kesultanan Aceh, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. Wilayah kekuasannya sampai ke Penang ( Malaysia), hingga sampai pantai timur Semenanjung Melayu. Para pedagang asing sampai tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.

Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai Sultan yang arif bijaksana dan juga sangat tegas. Karena itu Sultan sangat di segani baik kawan maupun lawan. Sultan Iskandar Muda juga menjalin hubungan baik dengan Negara-negara di Eropa, antara lain: Kerajaan Inggris dibawah Pemerintahan Ratu Elisabeth I pernah meminta izin pada Sultan untuk berdagang di Aceh. Pendiri Dinasti Orenje Belanda yaitu Pangeran Maurits juga pernah meminta bantuan kepada Kesultanan Aceh Darussalam. Selain Inggris dan Belanda, hubungan baik juga dilakukan Sultan Iskandar Muda dengan Kesultanan Utsmaniyah atau dikenal dengan Kekaisaran Turki Ottoman yg berkedudukan di Konstantinopel (sekarang Istanbul Turki). Demikian juga dengan Kerajaan Perancis, sangat menghormati Sultan Iskandar Muda.

Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligo Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran Sungai Krueng Aceh hingga mengaliri istananya. Sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe.

Setelah Sultan Iskandar Muda Wafat pada 27 Desember 1636 M, maka Kesultanan Darussalam digantikan oleh penerus-penerusnya. Tetapi tidak ada lagi yang bisa menyamai Kebesaran dan Kehebatan dari Seorang Sultan Iskandar Muda dalam memegang tampuk kekuasaan. Hingga pada akhirnya Kesultanan Darussalam mengalami kemunduran drastis, dan awal abad ke-19 terjadilah pertempuran sengit antara Aceh dan Belanda.

Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang atas Kerajaan Aceh Darussalam pada tanggal 26 Maret 1873. Perang antara Belanda dan Aceh merupakan yang terpanjang dalam sejarah dunia yaitu lebih kurang 69 tahun (1873 -1942) yang telah menelan jutaan nyawa.

Pada tahun 1942 Jepang mendarat di Aceh dan disambut baik oleh orang Aceh karena pada waktu itu antara Belanda dan Jepang saling bermusuhan, dan orang Aceh berharap kedatangan Jepang akan membantu mengusir Belanda dari tanah Aceh. Namun kenyataan sebaliknya bahwa Jepang lebih ganas dari Belanda sehingga orang Aceh merasa ditipu oleh Jepang dan mengangkat senjata memerangi Jepang.

Jepang berada di Aceh hanya 2,5 tahun, namun banyak pertempuran yang terjadi antara Aceh dengan Jepang. Diantara sekian banyak perang yang terjadi, ada dua pertempuran yang sulit untuk dilupakan karena banyaknya korban jiwa yang berjatuhan yaitu di Pandrah (Aceh Utara) dan di Cot Plieng (Aceh Utara). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 sedikit banyaknya telah membebaskan Aceh dari belenggu perang yang mengenaskan.


 
^ Kembali ke atas ^   
Tentang Aceh :
Sejarah Singkat
Demografis dan Geografis
Bagaimana Mencapai Aceh
 

  Informasi Wisata
Tempat Wisata berdasarkan objek wisata
Tempat Wisata berdasarkan Lokasi Kabupaten
Direktori Akomodasi
Direktori Transportasi
Direktori Tour dan Travel








     Teras    Peta Situs    Hubungi Kami
  Developed by Netcentric